Psikologi Pembelajaran Matematika


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

                 Belajar merupakan sebuah kebutuhan. Karena dengan belajar kelak  dapat memberikan berbagai manfaat dan wawasan kepada pembelajar. Dalam konteks ini, pendidikan juga menuntut adanya belajar untuk menunjang kegiatan pendidikan. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa belajar merupakan hal yang penting dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, dalam proses belajar terdapat teori – teori yang memunculkan adanya belajar. Sejak zaman dahulu teori – teori belajar terus dikembangkan oleh para ilmuwan sebagai temuan mereka untuk mengembangkan pemikiran belajar mereka.

                 Di era yang serba canggih ini, ternyata telah membawa berbagai perubahan yang memunculkan adanya teori – teori belajar yang baru guna menyempurnakan teori – teori sebelumnya. Akan tetapi, kita sebagai manusia tak bisa bertolak dengan adanya teori belajar yang telah ada sebelumnya. Adapun teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar tertentu.

                 Dengan perkembangan psikologi dalam pendidikan, maka bermunculan pula berbagai teori tentang belajar, justru dapat dikatakan bahwa dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar. Maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang sangat pesat. Dengan bermunculnya teori – teori yang baru akan menyempurnakan teori – teori yang sebelumnya. Berbagai teori belajar dapat dikaji dan diambil manfaat dengan adanya teori tersebut. tentunya setiap teori belajar memiliki keistimewaan tersendiri. Bahkan, tak jarang dalam setiap teori belajar juga terdapat kritikan – kritikan untuk penyempurnaan teori tersebut. dalam hal ini, penulis akan mengkaji salah satu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike.

B.      Rumusan Masalah

                 Adapun rumusan masalah dengan disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :

          1.    Bagaimana sejarah teori belajar Thorndike tersebut bisa muncul?

          2.    Apa definisi belajar menurut teori belajar Thorndike ?

          3.    Apa teori belajar Thorndike itu ?

          4.    Apa saja hukum – hukum dari teori belajar Thorndike ?

         

C.      Tujuan

                 Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan pengetahuan mahasiswa / mahasiswi pada mata kuliah psikologi pembelajaran matematika tentang pemikiran dan teori-teori Edward Lee Thorndike dan untuk mengetahui lebih mendalam tentang teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      Sejarah Teori Belajar Thorndike

               Edward Lee Thorndike adalah seorang psikolog dan pendidik. Ia lahir di Amerika pada tahun (1874) dan wafat pada tahun (1979).Thorndike memperoleh gelar sarjananya dari Wesleyan University di Connecticut pada tahun 1895, dan master dari Hardvard pada tahun 1897.

              Ketika di sana, Thorndike mengikuti kelasnya Williyams James dan mereka pun menjadi akrab. Thorndike menerima beasiswa di Colombia, dan dapat menyelesaikan gelar PhD-nya tahun 1898. Kemudian dia tinggal dan mengajar di Colombia sampai pensiun pada tahun 1940.
Thorndike berhasil menerbitkan suatu buku yang berjudul “Animal intelligence, An experimental study of associationprocess in Animal”. Buku tersebut merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, dan burung yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut oleh Thorndike yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak lain sebenarnya adalah asosiasi, suatu stimulus akan menimbulkan suatu respon tertentu.
Teori yang dikemukakan Thorndike dikenal dengan teori S-R. Dalam teori S-R dikatakan bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (Hewan, Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial end error). Apabila suatu organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan mengeluarkan tingkah laku yang serentak dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. Berdasarkan pengalaman itulah, maka pada saat menghadapi masalah yang serupa, organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus dikeluarkannya untuk memecahkan masalah. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Sebagai contoh : seekor kucing yang dimasukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar, dan sebagainya sampai suatu ketika secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka dan kucing pun bisa keluar. Sejak saat itulah, kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandang yang sama.

B.      Definisi Belajar Menurut Teori Belajar Thorndike

Pada awalnya, pendidikan dan pengajaran di Amerika Serikat didominasi oleh adanya pengaruh dari Thorndike (1874-1949). Teori belajar Thorndike dikenal dengan “Connectionism” (Slavin, 2000). Hal ini terjadi karena menurut pandangan Thorndike bahwa belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan / tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati.
Teori dari Thorndike dikenal pula dengan sebutan “Trial and error” dalam menilai respon-respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil – hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing, dan tingkah laku anak – anak dan orang dewasa. Adapun objek penelitian yang dikaji dihadapkan pada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek tersebut melakukan berbagai aktivitas untuk merespon situasi itu. Dalam hal ini, objek akan bereaksi mencoba berbagai cara untuk menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya.
Sebagai contoh yaitu seekor kucing yang dimasukkan ke dalam kandang yang terkunci, maka kucing tersebut akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar, dan sebagainya sampai suatu ketika secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka dan akhirnya kucing pun bisa keluar. Sejak saat itulah, kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandang yang sama.

C.      Teori Belajar Thorndike

Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang

Thorndike memplokamirkan teorinya dalam belajar ia mengungkapkan bahwasanya setiap makhluk hidup itu dalam tingkah lakunya itu merupakan hubungan antara stimulus dan respon, adapun teori thorndike ini disebut teori koneksionisme. Belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya. Dalam artiandengan adanya stimulus itu maka diharapkan timbulah respon yang maksimal teori ini sering juga disebut dengan teori trial and error . Dalam teori ini orang yang bisa menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya maka dapat dikatakan orang ini merupakan orang yang berhasil dalam belajar. Adapun cara untuk membentuk hubungan stimulus dan respon ini dilakukan dengan ulangan-ulangan.

Dalam teori trial and error ini, berlaku bagi semua organisme dan apabila organisme ini dihadapkan dengan keadaan atau situasi yang baru maka secara otomatis oarganisme ini memberikan respon atau tindakan-tindakan yang bersifat coba-coba atau bisa juga berdasarkan naluri karena pada dasarnya di setiap stimulus itu pasti ditemukakn respon. Apabila dalam tindakan-tindakan yang dilakukan itu menelurkan perbuatan atau tindakan yang cocok atau memuaskan maka tindakan ini akan disimpan dalam benak seseoarang atau organisme lainya karena dirasa diantatara tindakan-tindakan yang paling cocok adalah itu, selama yang telah dilakukan dalam menanggapi stimulus dan situasi baru. Jadi dalam teori ini pengulangan-pengulangan respon atau tindakan dalam menanggapi stimulus atau situasi baru itu sangat penting sehingga seseorang atau organisme mampu menemukan tindakan yang tepat dan dilakukan secara terus menerus agar lebih tajam dan tidak terjadi kemunduran dalam tindakan atau respon terhadap stimulus.

Dalam membuktikan teorinya thorndike melakukan percobaan sebagai berikut, seekor kucing dimasukkan dan dibiarkan lapar tidak diberi makanan sampai beberapa hari. Sementara itu pintu keluar dari kurungan dikunci dengan suatu alat sedemikian rupa sehingga apabila tali pengunci ditarik pintu dapat terbuka. Makanan diletakkan diluar kurungan dimana kucing yang lapar terpaksa harus belajar untuk keluar dengan menarik tali pengikat kunci sehingga mendapat makanan. Dengan bermacam-macam perbuatan akhirnya suatu ketika tali pengikat kunci tertarik sehingga pintu terbuka dan larilah kucing tersebut keluar untuk mendapat makanan. Percobaan ini dilakukan berulang-ulang dan ternyata semakin dicoba berulang kali semakin pendek jarak waktu antara pemberian masalah dan pemecahannya.

Diagram Teori Belajar Thorndike

–          Kucing dalam sangkar melihat melihat S berupa daging sebagai hadiah

–          R1,R2,…,R7 adalah si kucing yang mencoba keluar sangkar untuk menerkam daging S tapi  gagal.

–          Rn menginjak grendel pintu sangkar secara tidak sengaja maka pintu terbuka dan kucing keluar mencapai S berupa daging dan dimakannya.

D.      Hukum-Hukum Belajar

  1. Hukum kesiapan “Law of Readiness”

Dalam belajar seseorang harus dalam keadaan siap dalam artian seseorang yang belajar harus dalam keadaan yang baik dan siap, jadi seseorang yang hendak belajar agar dalam belajarnya menuai keberhasilan maka seseorang dituntut untuk memiliki kesiapan, baik fisik dan psikis, siap fisik seperti seseorang tidak dalam keadaan sakit, yang mana bisa mengganggu kualitas konsentrasi. Adapun contoh dari sikap psikis adalah seperti seseorang yang jiwanya tidak lagi terganggu, seperti sakit jiwa dan lain-lain.

Disamping sesorang harus siap fisik dan psikis seseorang juga harus siap dalam kematangan dalam penguasaan pengetahuan serta kecakapan-kecakapan yang mendasarinya.

 

 

Implikasi hukum kesiapan dalam pendidikan adalah:

  1. Sebelum guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak  disiapkan mentalnya terlebih dahulu. Misalnya: anak disuruh duduk yang rapi, tenang dan sebagainya.
  2. Penggunaan tes bakat sangat membantu untuk menyalurkan bakat anak. Sebab mendidik sesuai dengan bakatnya akan lebih lancar dibandingkan dengan bila tidak berbakat.

 

  1. Hukum Latihan”Law of Exercise”

Untuk menghasilkan tindakan yang cocok dan memuaskan untuk merespon suatu stimulus maka seseorang harus mengadakan percobaan dan latihan yang berulang-ulang, adapun latihan atau pengulangan prilaku yang cocok yang telah ditemukan dalam belajar, maka ini merupakan bentuk peningkatan existensi dari perilaku yang cocok tersebut agar tindakan tersebut semakin kuat(Law of Use). Dalam suatu teknik agar seseorang dapat mentrasfer pesan yang telah ia dapat dari sort time memory ke long time memory ini di butuhkan pengulangan sebanyak-banyaknya dengan harapan pesan yang telah di dapat tidak mudah hilang dari benaknya.

Adapun dalam percobaan Throndike dalam penjelasan sebelumnya yaitu pada seekor kucing yang lapar yang ditaruh dalam kandang, pertama-tama kucing tadi membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui pintu kandang tersebut dan untuk menemukan pintu tersebut membutuhkan pecobaan tingkah laku yang berulang-ulang dan membutuhkan waktu yang relative lama untuk mendapatkan tingkah laku yang cocok, sehingga kucing tadi untuk keluar tidak membutuhkan waktu yang lama.

Penggunaan hukum latihan dalam proses belajar mengajar adalah prinsip ulangan, misalnya:

  1. Memberi keterampilan kepada para siswa agar sering atau makin banyak menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya.
  2. Diadakan latihan resitasi dari bahan-bahan yang dipelajari.
  3. Diadakan ulangan-ulangan yang teratur dan bahkan dengan ulangan yang ketat atau system drill, ini akan memperkuat hubungan S-R. 

 

  1. Hukum Efek “Law of Effect”

Hukum efek merujuk pada makin kuat atau lemahnya hubungan S-R sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan. Rumusan tingkat hukum efek adalah, bahwa suatu tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk dipertahankan dan pada waktu lain akan diulangi. Sebaliknya suatu tindakan yang tidak menyenangkan cenderung untuk ditinggalkan dan tidak diulangi lagi. Jadi, hukum efek menunjukkan bagaimana pengaruh hasil suatu tindakan bagi perbuatan serupa.

            Implikasi hukum efek dalam pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Buatlah pengalaman, situasi kelas atau kampus sedemikian rupa sehingga menyenangkan bagi para siswa atau mahasiswa, guru, maupun karyawan sekolah. Penghuni sekolah merasa puas, aman dan mereka senang pada tugasnya masing-masing.
  2. Buatlah bahan-bahan pengajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga lebih dapat diterima atau dimengerti.
  3. Tugas-tugas sekolah diatur dengan tahap-tahap pencapaian hasilnya dan memberi keyakinan bagi para pelajar, guru, maupun petugas lainnya.
  4. Tugas-tugas sekolah ditata dengan tahap-tahap kesukarannya sehingga para siswa dapat maju tanpa mengalami kegagalan.
  5. Bahan-bahan pelajaran dan metode pengajaran diberikan dengan variasi agar pengalaman-pengalaman belajar mengajar menjadi segar dan menyenangkan, tidak menjemukan
  6. Bimbingan, pemberian hadiah, pujian, bahkan bila perlu hukuman tentulah akan  dapat memberi motivasi proses belajar mengajar.

 

  1. Prinsip-Prinsip Belajar yang Dikemukakan oleh Thorndike
    1. Pada saat seseorang berhadapan dengan situasi yang baru, berbagai respon yang ia lakukan. Adapun respon-respon tiap-tiap individu berbeda-beda tidak sama walaupun menghadapi situasi yang sama hingga akhirnya tiap individu mendapatkan respon atau tindakan yang cocok dan memuaskan. Seperti contoh seseorang yang sedang dihadapkan dengan problema keluarga maka seseorang pasti akan menghadapi dengan respon yang berbeda-beda walaupun jenis situasinya sama, misalnya orang tua dihadapkan dengan prilaku anak yang kurang wajar.
    2. Dalam diri setiap orang sebenarnya sudah tertanam potensi untuk mengadakan seleksi terhadap unsur-unsur yang penting dan kurang penting, hingga akhirnya menemukan respon yang tepat. Seperti orang yang dalam masa pekembangan dan menyongsong masa depan maka sebenarnya dalam diri orang tersebut sudah mengetahui unsur yang penting yang harus dilakukan demi mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan.
    3. Orang cenderung memberikan respon yang sama terhadap situasi yang sama. Seperti apabila seseorang dalam keadaan stress karena diputus oleh pacarnya dan ia mengalami ini bukan hanya kali ini melainkan ia pernah mengalami kejadian yang sama karena hal yang sama maka sudah barang tentu ia akan merespon situasi tersebut seperti yang ia lakukan seperti dahulu yang ia lakukan.

 

Klik Di bawah ini untuk download

Download

 

 

2 pemikiran pada “Psikologi Pembelajaran Matematika

  1. lalu apa keterkaitan antara metode behaviorisme ini dengan kognivisme,karna secara sepintas keduanya hampir mirip pada bagian stimulus-respon nya.terima kasih

    1. keterkaitan antara metode behaviorisme dan kognivisme yaitu kedua metode sama-sama menjelaskan tentang psikologi dalam pembelajaran serta perkembangannya; namun untuk behaviorisme lebih menekankan pada kebiasaan-kebiasaan sikap / perilaku, sedangkan kognivisme lebih menekankan pada perkembangan kognitif seseorang tersebut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s