WARA


Abu Dzar Al-Ghiffari berkata, “Rasulullah SAW bersabda :

“Sebagian dari kesempurnaan Islam seseorang, adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berarti”.[1]

Al-Ustaz Al-Imam r.a berkata, “Yang dimaksud wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang syubhat”. Menurut komentar Ibrahim bin Adham, yang dimaksud wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang syubhat dan yang tidak pasti (tidak dikehendaki), yakni meninggalkan hal-hal yang tidak berfaedah.

Abu Bakar Ash-Shidiq r.a. berkata, “Kita telah meninggalkan tujuh puluh[2] persoalan yang berkaitan dengan hal yang halal karena takut terkait dengan persoalan yang haram”. Nabi Muhammad SAW, pernah menasehati Abu Hurairah r.a :

“Jadilah orang yang wara’, engkau akan menjadi orang yang paling beribadah di antara manusia.”[3]

Saya telah mendengar As-Sariy berkata, “Ada empat ahli wara’ di masa mereka, yaitu Hudzaifah Al-Mar’asyi, Yusuf bin Asbath, Ibrahim bin Adham, dan Sulaiman Al-Khawwash. Mereka mempunyai pandangan yang sama tentang wara’. Ketika mereka mendapatkan berbagai persoalan yang sulit, mereka mampu meminimalkan”. Saya pernah mendengar Syibli berkata, “Wara’ merupakan upaya untuk menghindarkan diri dari berbagai hal yang tidak berkaitan dengan Allah SWT”.

Diceritakan oleh Ishaq bin Khalaf dia mengatakan, “wara’ dalam ilmu logika lebih hebat daripada emas dan perak, sedangkan zuhud dalam ilmu kepemimpinan lebih hebat daripada keduanya.  Oleh karena itu, engkau dapat mengalahkan keduanya dalam mencapai kepemimpinan”.

Menurut Abu Sulaiman Ad-Darani, wara’ merupakan permulaan dari zuhud, sedangkan qana’ah merupakan akhir dari keridaan. Sedangkan menurut Abu Utsman, pahala wara’ adalah takut terhadap hisab. Menurut Yahya bin Mu’adz, wara’ akan terhenti di atas ilmu tanpa ada perubahan.

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Abdullah bin Marwan mengalami kebangkrutan. Dia berada di dalam sumur yang sangat kotor. Setelah itu dia menyewanya sehingga dia dapat keluar. Abdullah bin Marwan ditanya tentang hal itu. Dia menjawab, “Di atas sumur itu terdapat nama Allah SWT”.

Saya mendengar Yahya bin Mu’adz berkata, “wara’ terbagi menjadi dua. Pertama, wara’ lahir, yakni semua gerak aktivitas yang hanya teertuju kepada Allah SWT. Kwdua, wara’ batin, yakni hati yang tidak dimasuki sesuatu kecuali hanya mengingat Allah SWT”.


[1] Hadis dikeluarkan oleh Imam Malik bin Anas dalam Muwatha’-nya jilid 2 halaman 903 dalam bahasan “kebaikan Akhlak”. At-Turmusi mencantumkannya di nomor 2318-2319 tentang zuhud di bab nomor 11 dari hadis Anas bin Malik. Ibnu Majah mencantumkannya di nomor 3976 tentang fitnah-fitnah di bab “menjaga lidah supaya tidak jauh pada perbuatan fitnah”. At-turmuzi mengatakan, “Ini adalah hadis Gharib”.

[2] Yang dimaksud dengan lafal “as-sab’in” di dalam Al-Qur’an adalah semata-mata menggambarkan kelebihan dalam bilangan. Hal ini memiliki sebab sebagaimana yang  termuat dalam Al-Qur’an sebanyak tiga kali, yaitu : (1) “ kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta” (QS. Al-Haqqah : 32)”, (2) “dan Musa memlih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk memohon tobat kepada kami pada waktu yang telah kami tentukan” (QS. Al-A’raf:166), (3) “kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, sekali-kali Allah tidak akan member ampunan kepada mereka” (QS. At-Taubah : 80).

[3] Hadis diriwayatkan oleh Abu hurairah dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah nomor 4217 dalam bahasan zuhud di bab wara’ dan takwa. Al-Haitsami menganggapnya baik di Majma’uz Zawaid dan disebutkan di Kanzul ‘Ummal jilid 1 halaman 243 nomor 44314. A-Thabrani meriwayatkannya di Al-Ausath.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s