Teknik Membuka & Menutup Pelajaran


Menurut Sugeng Paranto (1979:22-24), “yang dimaksud dengan siasat membuka pelajaran ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam setting belajar-mengajar untuk menciptakan prakondisi, sehingga perhatian serta sikap mental murid dapat digiring atau siap serta involve pada soal / kegiatan yang akan dilakukan”.

Tujuan pokok dari teknik membuka pelajaran adalah tidak lain :

  • Untuk menyiapkan mental murid agar involve atau siap memasuki persoalan yang akan dibicarakan dan
  • Untuk menimbulkan minat serta pemusatan perhatian murid terhadap apa yang mau dibicarakan dalam kegiatan belajar mengajar.

Teknik menutup pelajaran (closure) ialah teknik guru untuk mengakhiri kegiatan belajar mengajar yang bertujuan untuk :

  • Merangkum atau membuat garis-garis besar persoalan yang baru saja dibahas / dipelajari sehingga memperoleh gambaran yang jelas tentang makna serta essensi dari pokok persoalan yang baru saja diperbincangkan.
  • Mengkonsolidasikan perhatian murid terhadap hal-hal yang pokok dalam pembicaraan / pelajaran tersebut agar informasi yang telah diterimanya dapat membangkitkan minat serta kemampuannya pada masa-masa mendatang dalam kelanjutan proses belajar mengajar
  • Mengorganisasikan semua kegiatan maupun pembicaraan yang telah dipelajari dalam pertemuan sehingga merupakan suatu kebetulan yang berarti dalam memahami essensi bahan yang baru dipelajari.

Pengertian Belajar


Belajar didefinisikan:

  1. Sebagai modifikator atau pengukuhan tingkah laku melalui perolehan pengalaman (learning is defined as the modificator or strengthening of behavior through experiencing), sehingga lebih tepat jika dikatakan bahwa belajar bukan sekedar hanya mengingat atau menghafal, namun lebih luas daripada itu yaitu mengalami (Oemar Hamalik, 2003: 27).
  2. Suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif konstan dan berbekas (Winkel, 1996: 53).
  3. Suatu proses perubahan tingkah laku individu atau seseorang melalui interaksi dengan lingkungan yang mencakup perubahan dalam kebiasaan (habit), kecakapan (skill), atau dalam tiga aspek yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan (Oemar Hamalik, 2003: 28).

Ciri-ciri belajar sebagai berikut:

  1. Ada perubahan tingkah laku, baik tingkah laku yang dapat diamati maupan tingkah laku yang tidak dapat diamati secara langsung.
  2. Perubahan tingkah laku meliputi tingkah laku kognitif, afektif, psikomotorik, dan campuran.
  3. Perubahan terjadi melalui pengalaman atau latihan.
  4. Perubahan tingkah laku menjadi sesuatu yang relatif menetap.
  5. Belajar merupakan suatu proses usaha, yang artinya belajar berlangsung dalam kurun waktu cukup lama.
  6. Belajar terjadi karena ada interaksi dengan lingkungan.

Seseorang dikatakan belajar matematika apabila pada diri orang tersebut terjadi suatu kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan matematika. Perubahan tersebut terjadi dari tidak tahu menjadi tahu konsep tersebut, dan mampu menggunakannya dalam materi lanjut atau dalam kehidupan sehari-hari (Herman Hudoyo, 1988: 4).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar belajar menjadi efektif (Slameto, 2003: 73–92):

  1. Adanya bimbingan dari guru.
  2. Kondisi internal (kondisi yang ada dalam diri siswa), kondisi eksternal (kondisi yang ada di luar diri siswa), dan strategi belajar siswa.
  3. Metode belajar siswa.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar matematika yang efektif adalah terjadinya perubahan tingkah laku (kebiasaan, pengetahuan, sikap, dan keterampilan) relatif konstan dan berbekas pada diri seseorang yang diperoleh melalui pengalaman dan latihan dalam matematika yang melibatkan aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif seseorang dengan lingkungannya yang dapat memberi pengaruh yang positif dan berguna.