SEJARAH ISLAM PADA MASA PRA ISLAM DAN MASA KLASIK



A.   MASA PRA ISLAM

Masa Jahilliyah adalah masa sebelum datangnya islam, tepatnya di daerah Jazirah Arab. Masa Jahilliyah juga dapat dikatakan masa sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Istilah itu digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan keadaan atau perilaku tertentu.[1]

Istilah Jahilliyah diberikan kepada bangsa Arab yang pola kehidupannya bersifat primitif. Mereka pada umumnya hidup berkabilah-kabilah dan nomaden (berpindah-pindah). Bangsa jahiliyah tidak mengenal baca tulis atau bisa disebut ummi. Itulah yang menyebabkan mereka hidup dalam kebodohan dan kegelapan. Al-Qur’an menunjukkan zaman itu adalah sebagai berikut : zaman tidak mempunyai nabi dan kitab suci; tidak mempunyai peradaban; masyarkatnya tidak berakhlak, angkuh; masyarakatnya jahil dan tidak bisa baca tulis.[2] Itu semua mengakibatkan mereka hidup dalam kesesatan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan, menyembah berhala, membunuh anak dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harta kekayaan dengan berjudi, dan membangkitkan peperangan diantara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan. Kondisi seperti itulah yang disebut dengan jahiliyah.[3]

Dengan demikian, tidak berarti mereka tidak mempunyai potensi peradaban. Mereka sebenarnya berada dalam kondisi fitrah, dalam arti tidak terkontaminasi oleh kebudayaan dan peradaban yang memerosokkan kemanusiaan yang terjadi di Persia dan Romawi. Mereka tidak memiliki kemewahan peradaban Persia, yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan. Mereka tidak memilki kekuatan militer Romawi yang mendorong mereka melakukan ekspansi ke negeri-negeri tetangga. Mereka tidak memiliki kemegahan filosofis Yunani, yang menjerat mereka menjadi bangsa mitos dan khurafat. Mereka terkenal dengan kedermawanan, suka menolong, rasa harga diri dan kesucian.[4]

Yang paling fenomenal dari bangsa Arab jahiliyah adalah tradisi kesusastraan yang begitu tinggi. Itu berupa syair, yang setiap tahun yang berpusat di Suq al-ukaz. Syair-syair terbaik diabadikan dengan dituliskan tinta emas yang digantung di dinding Ka’bah yang dinamakan almu’ allaqat.[5]

Syair mempunyai peran yang sangat dominan dalam kehidupan bangsa Arab jahiliyah. Fungsi syair sama halnya dengan fungsi pers. Seseorang bisa jatuh dalam kehinaan karena sebait syair dan begitu juga sebaliknya.[6]

B.   Masa Klasik

Masa klasik dalam periodisasi islam yaitu masa dimana ketika nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasul. Ada juga yang mengatakan bahwa masa klasik yaitu masa dimana hijrahnya Rasul Allah ke Madinah.

Nabi Muhammad diutus dengan al-Qur’an sebagai penyangga utamanya. Oleh karena masyarakat jahiliyah sangat menyukai dengan kesusastraan. Maka, al-Qur’an diturunkan dengan bahasa sastra yang lazim dipakai masyarakatnya. Itu semua didasarkan yaitu :

  1. untuk menyesuaikan diri dengan tradisi masyarakatnya (agar komunikatif)
  2. untuk menantang dan mengungguli syair-syair jahiliyah.

Dalam menyampaikan risalah Tuhan, nabi Muhammad SAW menemui gangguan dan rintangan yang keras. Rintangan itu dapat berupa ancaman pembunuhan dari masyarakat kafir Quraisy. Oleh karena beratnya penderitaan yang ditanggung kaum muslimin, Nabi Muhammad SAW memerintahkan sahabatnya mencari suaka ke Ethiopia. Pemimpin negeri Ethiopia Raja Negus menolak ekstradisi para imigran islam yang dituntut oleh kaum Quraisy.[7]

Demikian keadaan Nabi Muhammad SAW selama berdakwah di Mekkah, sampai kemudian ia melakukan perjanjian dengan beberapa orang utusan dari masyarkat kota Yastrib, yang tidak berapa lama kemudian mengantarkannya berhijrah ke Madinah. Di tempat baru ini, beliau membangun masyarakat dan meneruskan dakwahnya. Ia menyebut pernduduk asli dengan Anshor, sedangkan penduduk yang bermigrasi disebut Muhajirin.[8]

Selama 10 tahun Rasul Allah SAW tinggal di Madinah hingga akhirnya ia dan kaum muslimin berhasil mendapatkan kesempatan menaklukan kota Mekkah dan membebaskan Ka’bah dari berbagai berhala.

Setelah wafatnya Rasul, kepemimpinan diambil alih oleh para khalifah. Mulai dari khalifah Abu Bakar hingga Ali, yang disebut sebagai masa al-Khualafa’ al-Rashidun. Berikut ini adalah urutan khalifah yang memimpin setelah Rasul wafat, yaitu :

a.    Abu Bakar al-Shidiq (w. 634M/11 H)

Kebijakan pertama yang ia lakukan adalah memerangi orang-orang yang murtad dan golongan orang yang menolak membayar zakat. Ia juga melanjutkan kebijakan Rasul SAW dengan mengirim pasukan pemimpin Usamah bin Zayd ke Syria, yang sebelumnya sampai tertunda karena sakit keras yang menderanya, menjelang kewafatannya. Ia juga berhasil mengumpulkan Al-Qur’an  dalam satu mushaf yang berserakan pada pelepah kurma, batu tipis, tulang dan lembaran kain  atau kulit binatang.[9]

b.    Umar bin Khattab (w. 644 M/23 H)

Pada masa pemerintahannya ia melakukan ekspansi ke negeri Persia, Iraq, Palestina, Syria hingga Mesir. Hal ini ia lakukan demi membebaskan wilayah jajahan-jajahan tersebut dari jajahan Romawi. Ia meninggal di usia 63 tahun akibat dibunuh oleh Abu Lu’luah al-Majusi yang berasal dari Persia.[10]

c.     Usman bin Affan (w. 656 M/35 H)

Pada masa pemerintahannya ia berhasil menyusun al-Quran dalam satu bentuk bacaan yang sebelumnya memilki banyak versi. Ia juga berhasil memperluas wilayah islam ke Turki, Siprus, Afrika Utara, Asia Tengah, Khurasan dan Balkh di Afganistan. Pasukan tangguh dan kuat pertahanannya.[11] Usman meninggal dunia dalam usia 82 tahun ketika membaca al-Qur’an, akibat ketidakpuasan rakyatnya atas kebijakan politiknya yang cenderung nepotisme.

d.    Ali bin Abi Thalib (w. 661 M/40 H)

Pada waktu pemerintahan Ali bin Abi Thalib, terjadi berbagai kerusuhan dan kekacauan setelah terbunuhnya Usman. Rakyat menuntutnya untuk segera menghukum pembunuh Usman. Itu sulit diwujudkan,karena kondisi negara yang tidak stabil. Ia hanya menetapkan yaitu memerangi kelompok pembangkang tersebut yang berujung pada terjadinya perang Jamal pimpinan Aisyah yang didukung Zubair dan Talhah dan perang Siffin pimpinan Mu’awiyah.[12] Dalam perang Siffin, Ali menerima arbitrasi yang menyebabkan pasukannya terbelah menkadi dua. Satu menolak, sedang yang lain menerimanya. Kelompok yang menolak inilah disebut Khawarij yang bertanggung jawab atas terbunuhnya sang Khalifah.

Setelah pemerintahan yang dipimpin oleh para khalifah, pemerintahan islam itu berganti menjadi Monarchy heredits (kerajaan turun-temurun). Dinasti-dinastinya terdiri dari :

  1. 1. Dinasti Amawi (Bani Ummayah)

Dinasti Amawi adalah dinasti pertama dalam islam yang didirikan oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan (w.661 M/41 H). Ia mengangkat puteranya Yazid sebagai putera mahkota dan menjadikan Damaskus di Syria sebagai ibukota islam dan pusat pemerintahannya.

Dinasti ini mencapai puncak kejayaan pada masa al-Walid (w.715 M/96 H). Ia melanjutkan ekspansi islam jilid II hingga mencapai Asia kecil, Asia tengah, Afrika Utara dan Eropa. Sedang Umar bin’ Abd al-Azis (w.720 M/101 H) adalah khalifah yang terkenal dengan ketaqwaan dan kejujurannya. Sampai-sampai ia dijuluki sebagai khalifah ketiga setelah Abu Bakar dan Umar. Kebijakannya yang paling kontoversial adalah :

1.   Mengembalikan harta kekayaan yang dimiliki keluarganya dan bahkan istrinya ke Bayl Mal al-Muslimin,

2.   Menghapus upeti yang dipungut dari Ahl ad-Dhimmah yang sudah masuk islam,

3.   Menurunkan nilai pajak yang harus dibayar kaum muslimin, terutama kaum mawali (kaum muslim non-Arab dari Persia).

4.   Membela yang kecil dan penghapusan diskriminasi social yang menyebabkan banyak orang yang memeluk islam.[13]

Masa kekuasaan Dinasti Amawi berlangsung selama 91 tahun. Kemudian dinasti tersebut mengalami keruntuhan. Penyebab utama keruntuhan dinasti itu adalah :

1.   Faktor intern. Faktor itu berupa adanya persaingan dan perebutan kekuasaan diantara para keluarga khalifah

2.   Faktor ekstern. Yaitu adanya perselisihan dan perebutan pengaruh yang cenderung mengarah pada fanatisme golongan antara orang Arab Mudariyah di utara dan Yamaniyah di selatan; ketidaksenangan rakyat atas perilaku khalifah dan keluarganya yang mengabaikan nasib rakyat.

Meskipun demikian, Dinasti ini memberikan kontribusi yang besar dalam memperluas wilayah islam. Dari Maroko inilah ekspansi ke Eropa dimulai ketika Tariq bin ziyad mendarat di daerah pegunungan Gibraltar di Spanyol.[14]

 

2.    Dinasti Abbasiyah (Bani Abbasiyah)

Pendiri Dinasti Abbasiyah adalah Abu al-Abbas al-Saffah (w. 754 M/ 136 H). Pengganti al-Saffah adalah Abu Ja’far al-Mansur (w. 776 M/158 H). Ia bisa dikatakan sebagai pembina dan peletak dasar dinasti yang sebenarnya. Karena pada massanya ia menumpas pemberontak yang terjadi di semua kekuasaan islam. Puncak kejayaannya yaitu pada masa Khalifah Harun al-Rashid (w. 809 M/193 H). Karena pada masa pemerintahannya ia meningkatkan kesejahteraan rakyat dan keperluan sosial. Contohnya yaitu dibangunnya rumah sakit.

Penggantinya yaitu al-Amin (w. 813 M/198 H). ia mati terbunuh karena korban fitnah antara dirinya dengan saudaranya al-Ma’mun. al-Ma’mun mempunyai perhatian yang sangat besar pada peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Contohnya yaitu ia membangun gedung pendidikan dan sekolah. Pada masanya, Baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Pengganti selanjutnya yaitu al-Mu’tasim. Dan inilah awal mula malapetaka yang menyebabkan Bani Abbasiyah mengalami kemunduran Drastis menuju pada kehancurannya.

Terdapat perbedaan mendasar antara Dinasti Amawi dan Abbasiyah. Pertama, Amawi lebih mendahulukan solidaritas arabnya, sedang Abbasiyah lebih condong kepada kaum mawali Persia sebagai kekuatan pendukungnya. Kedua, Amawi lebih mementingkan perluasan wilayah islam, sedang Abbasiyah lebih mementingkan ilmu pengetahuan.

Dapat disimpulkan bahwa periode klasik terbagi menjadi dua. Periode pertama yaitu masa kemajuan islam yang terjadi mulai sekitar tahun 650 M – 1000 M. Sedangkan periode kedua yaitu masa kemuduran yang dimulai tahun 1000 M – 1258 M yang ditandai dengan runtuhnya Baghdad.


[1] Seperti firman Allah SWT ”…Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah…” (QS.3:154) dan firman-Nya “…Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu…”(QS.33:33).

[2] Wikipedia, Jahiliah, http:// ms.wikipedia.org/wiki/jahiliah, diakses tanggal 17 Oktober 2010

[3] Tim penyusun studi islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam,Surabaya : IAIN Sunan Ampel Press, 2004, h. 129

[4] Sa’id Ramadhan al-Buthi, Sirah Nabawiyah, terj. Anonim (Jakarta:Robbani Press, 1995), 12-13.

[5] Tim penyusun studi islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam,Surabaya : IAIN Sunan Ampel Press, 2004, h. 130

 

[6] Ibid.

 

[7] Syed Mamudannasir, Islam Its Concepts & History, terj. Adang Affandi (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994), 124

[8] Tim penyusun studi islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam,Surabaya : IAIN Sunan Ampel Press, 2004, h. 131

[9] Muhammad al-Khudai Bik, Tarikh al-Tashri’ al Islami (Mesir :Matba’ah al-Sa’adah, 1954),12

[10] Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, vol. 1 (Beirut : Dar al-Fikr)

[11] Ibn al-Athir, al-Kamil fi al Tarikh, vol 3 (Beirut : Dar al Sadir, 1965), 111

[12] Abu ‘Amr Khalifah Khayyat al-Laythi, Tarikh Khalifat Ibn Khayyat (Beirut: Dar al-Kuttub al-Ilmiyyah, 1995), 115

[13] Hasan Ibrahim Hasan, Tarijh al-Islam al-Siyasi wa al-Dini wa al-Thaqafi wa al-Ijtia’ I, vol I (Cairo: Maktabat al-Nahdah al Misriyah, 1979), 337.

[14] Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya (Jakarta:UI Press), 62

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s